Archive for the ‘Difabel’ Tag

Menghadiri acara BIKERS BROTHERHOOD MC di sirkuit Geri Mang Subang   20 comments

Berikut foto-foto penampakan :

1. Motor mbak Darti, bikers disabilitas asal kota solo yg jauh2 ke subang

2. Motor mas Janwar ketua MODIF (Motor Difabel) Bandung

3 Suasana di parkiran sirkuit

4 Motor mas Janwar dan Mas Otong dari Majalengka

5 Adi pembalap Disabilitas asal Ciputat

6 Jualan krupuk subang

7 Trail Version

8 istirahat sejenak di Cikarang

Figure 1: bersama Mang Asep, modifikator motor difabel bandung

Eksistensi Disable Motorcycle Indonesia (DMI) JATIM yang Luar biasa….   18 comments

Ditengah eksistensi komunitas motor penyandang disabilitas di daerah lain yang hidup segan mati tak mau , komunitas DMI (http://dmiclub.blogspot.com/) dibawah pimpinan pak Abdul Syakur masih membuktikan eksistensinya

Berikut gambar kegiatan teman2 dari komunitas DMI saat mengadakan acara Touring ke Tulungagung:

Gambar Copas dari facebook DMI….

Pulsar Roda3-ku Narsis di AN-TV   34 comments

Link lengkapnya ada di : http://www.youtube.com/watch?v=hnSqPQMnJEA

DMC JABODETABEK : Touring Perdana ke Bogor ( 24 Juli 2010 )   8 comments

Berikut foto-foto Touring perdana DMC Jabodetabek ke Bogor :

Dalam kegiatan tersebut juga disepakati susunan kepengurusan DMC Jabodetabek yaitu :

Ketua : Manahara Sinaga

Wakil Ketua : Rade Bunga

Sekretaris & IT Section : Tulus Budi Prasetyo

Dokumentasi & Fotografi : Sofia Mochtar

Bendahara : Nina Kusumastuti

Komunitas Motor Difabel : Disable Motorcycle Indonesia (DMI) Jawa Timur   22 comments

Komunitas

Disable Motorcycle Indonesia (DMI)

Lokasi

Jawa Timur (Surabaya – Sidoarjo)

Logo

URL

http://www.facebook.com/pages/Disable-Motorcycle-Indonesia/114646091883427

 

Para Difabel-pun seakan tak mau kalah dengan para biker normal, mereka memiliki wadah berupa komunitas ataupun Club Biker untuk menampung kegiatan dan aspirasi mereka, pada tulisan berikut akan ditampilkan foto-foto kegiatan mereka:

Gambar-gambar diatas diunduh setelah mendapat ijin dari pemilik gambar di facebook tersebut

Ragam Modifikasi Untuk Difabel : Dari Berbagai Sumber (1)   21 comments

Motor

Pemilik / Lokasi

Modifikator

Source

Internet ( Mbah Google )

 

Berbagai Kendala yang dialami oleh Penyandang cacat (Difabel) untuk mendapatkan Aksesibilitas terutama dari segi Transportasi mendorong mereka untuk menciptakan / memodifikasi kendaraan khusus untuk menunjang Aksesibilitas mereka.

Tulisan ini bisa menjadi Inspirasi terutama bagi para difabel yang menginginkan Aksesibilitas dari segi transportasi .

 

Semua Gambar diatas didapat dari berbagai sumber di-Internet, Penulis kesulitan untuk meminta Ijin dari Pemilik Gambar.

 

 

Ragam Modifikasi Untuk Difabel : Yanto Maryanto ( Jakarta )   2 comments

Motor

Honda Supra X

Pemilik / Lokasi

Yanto Maryanto / Cengkareng Jakarta

Modifikator

  • , Jakarta

Source

http://ymaryanto.blogspot.com/

 

Berbagai Kendala yang dialami oleh Penyandang cacat (Difabel) untuk mendapatkan Aksesibilitas terutama dari segi Transportasi mendorong mereka untuk menciptakan / memodifikasi kendaraan khusus untuk menunjang Aksesibilitas mereka.

Tulisan ini bisa menjadi Inspirasi terutama bagi para difabel yang menginginkan Aksesibilitas dari segi transportasi .

 

Ragam Modifikasi Untuk Difabel : Bro Benny Gondana (Sukabumi)   2 comments

Motor

Honda Supra X

Pemilik / Lokasi

Benny Gondana / Sukabumi

Modifikator

  • , Jakarta

 

Berbagai Kendala yang dialami oleh Penyandang cacat (Difabel) untuk mendapatkan Aksesibilitas terutama dari segi Transportasi mendorong mereka untuk menciptakan / memodifikasi kendaraan khusus untuk menunjang Aksesibilitas mereka.

Tulisan ini bisa menjadi Inspirasi terutama bagi para difabel yang menginginkan Aksesibilitas dari segi transportasi .

1 . Tampak Samping

2. Tampak Belakang, As tengah menyambung , Fitur Disc Brake

SIM untuk Difabel   1 comment

Mengangkat lagi berita lama di kompas tentang Surat Ijin Mengemudi untuk Difabel berkendaraan motor dan mobil… ini tolisan lengkapnya, gw Copas ya?….

Sabtu, 17 Januari 2009 | 13:16 WIB
Oleh Winarta

Pada 10 Desember 2008 lalu, Kepolisian Daerah DIY mengeluarkan Surat Nomor B/4965/XII/2008/Ditlantas ditujukan kepada Kepala Poltabes/Kepala Polres se-DIY perihal Pembuatan Surat Izin Mengemudi untuk Penyandang Cacat. Ada tiga hal pokok yang harus dilaksanakan oleh poltabes/polres. Pertama, tidak ada diskriminasi dalam pengurusan SIM antara difabel dan nondifabel. Kedua, memberikan pelayanan dan menyediakan sarana dan prasarana bagi difabel yang dapat mempermudah difabel mengurus SIM. Dan ketiga, difabel diperbolehkan melakukan modifikasi kendaraan bermotor dengan berpedoman pada ketentuan yang ada.

Keberadaan surat itu tentu sangat melegakan bagi difabel. Sampai saat ini, hanya sedikit jumlah difabel yang berhasil menembus hambatan birokrasi pengurusan SIM dan itu pun dengan mengeluarkan biaya yang lebih mahal daripada warga nondifabel. Padahal, berdasarkan Skep Dirlantas Polri Nomor Skep/22/IX/2005 tanggal 22 September 2005 tentang Vademikum Polri disebutkan bahwa SIM dapat diberikan kepada difabel.

Pasal 5 Undang-Undang Nomor 4/1997 tentang Penyandang Cacat juga menegaskan bahwa setiap penyandang cacat mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam aspek kehidupan dan penghidupan. Oleh karena itu, surat Polda DIY kepada Kepala Poltabes/Kepala Polres se- DIY diharapkan dapat menghilangkan hambatan yang dihadapi difabel dalam pengurusan SIM.

Masalah utama yang dihadapi difabel adalah banyak mengalami hambatan dalam melakukan mobilitas. Saat seseorang diberi predikat sebagai orang cacat, sering kali dianggap tidak mampu atau tidak mempunyai hak melakukan mobilitas. Keluarga yang memandang anak cacat adalah sebuah aib sering kali membatasi ruang gerak dan daya gerak anak tersebut. Anak “dipaksa” agar tidak melakukan mobilitas secara bebas.

Mobilitas juga dimaknai secara sempit sebagai kemampuan kaki untuk berjalan. Seseorang yang hanya mempunyai satu kaki atau kakinya tidak seperti nondifabel dianggap tidak mempunyai kemampuan melakukan mobilitas. Hal itu jelas suatu anggapan yang salah karena apabila dilakukan rehabilitasi medik yang tepat serta dukungan sarana dan prasarana yang aksesibel, difabel dapat melakukan mobilitas secara wajar seperti nondifabel.

Dengan memiliki SIM, pada dasarnya difabel dianggap mempunyai kemampuan mengendarai kendaraan bermotor di jalan umum. Bagi difabel, sebagaimana warga negara lainnya, penggunaan kendaraan di jalan umum merupakan salah satu bentuk pelaksanaan hak melakukan mobilitas.

Hak melakukan mobilitas meliputi kesempatan untuk bergerak dalam lingkungannya dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Baik dengan cara berjalan kaki, menggunakan kursi roda, mengendarai sendiri, atau sekadar menumpang kendaraan bermotor, maupun menggunakan alat bantu lainnya.

Tidak terpenuhinya hak seseorang untuk melakukan mobilitas akan mengakibatkan tidak terpenuhinya hak yang lain. Suatu kenyataan bahwa tidak mungkin semua hak dapat diperoleh seseorang tanpa terlebih dulu melakukan mobilitas. Hak memperoleh pendidikan, pekerjaan, mengembangkan diri, berorganisasi, dan sebagainya akan berhubungan dengan hak melakukan mobilitas. Keselamatan masyarakat

Salah satu kekhawatiran yang muncul di kalangan nondifabel dengan pemberian SIM kepada difabel adalah keselamatan masyarakat. Ada kekhawatiran pemberian SIM itu dapat memicu terjadinya kecelakaan di jalan raya. Memang secara filosofi, SIM sebagai surat izin berfungsi untuk melindungi kepentingan masyarakat secara umum, terutama keselamatan orang-orang yang berada di jalan umum. Namun, kekhawatiran tersebut terlalu berlebihan dan hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak difabel mempunyai SIM.

Kekhawatiran akan terjadinya kecelakaan, pada dasarnya lebih karena asumsi bahwa difabel tidak mampu mengendarai kendaraan bermotor dengan baik. Fakta empirisnya, baik difabel maupun nondifabel ada yang mampu mengendarai kendaraan bermotor dengan baik dan ada yang tidak mampu mengendarai kendaraan dengan baik.

Baik dalam Vademikum Polri maupun surat Polda DIY, untuk menjamin keselamatan publik terkait pemberian SIM bagi difabel telah dijaga dengan dua ketentuan. Pertama, pemberian SIM diberikan atas keyakinan berdasarkan pemeriksaan dokter, bahwa kecacatannya tidak menghalangi teknis mengemudi yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain. Berdasarkan ketentuan ini, maka hanya difabel yang dianggap mampu mengemudi/mengendarai kendaraan bermotor secara aman yang akan diperbolehkan mempunyai SIM.

Dalam hal ini, rehabilitasi medik yang telah dilakukan turut pula menentukan. Dan kedua, modifikasi kendaraan bermotor dilakukan oleh bengkel resmi dan surat keterangan dari dinas perhubungan bahwa kendaraan itu laik jalan. Dengan ketentuan ini, maka kendaraan yang dipakai difabel di jalan umum memenuhi syarat keselamatan umum dan terjamin keamanannya, tidak hanya bagi difabel tetapi juga masyarakat.

Surat Polda DIY tidak akan ada artinya bila tak ada kesiapan dari kepolisian di poltabes/polres untuk melaksanakan. Sosialisasi isi surat tersebut perlu dilakukan ke seluruh jajaran petugas yang berkaitan dengan pengurusan SIM dan ditempel di kantor pelayanan. Sampai saat ini masih banyak petugas yang belum mengetahui isi surat tersebut.

Di samping itu, belum ada standar pelayanan yang memberi kemudahan kepada difabel dalam mengurus SIM. Sarana dan prasarana yang aksesibel juga belum cukup tersedia. Berkaitan dengan kebutuhan adanya dokter yang melakukan pemeriksaan kepada difabel yang tidak dapat dilakukan oleh sembarang dokter, kepolisian perlu melakukan kerja sama dengan rumah sakit atau Ikatan Dokter Indonesia untuk penyediaan dokter yang kompeten dan memahami persoalan difabilitas, serta mudah dijangkau oleh difabel.

Winarta Deputi Direktur Independent Legal Aid Institute (ILAI) Tinggal di Yogyakarta

ok …… sooo kapan jakarta ……….??????……..

Posted 22 Oktober 2009 by Tulus Budi in Motor

Tagged with ,

Modifikasi Motor Untuk Penyandang Cacat / Difabel, Sesuai Fungsi dan Ke-cacat-an… (Bag. 1)   32 comments

Banyak temen sesama Penyandang Cacat/PENCA/Difabel menanyakan tentang model2 modifikasi motor… misalnya untuk kecacatan jenis paraplegia, Folio, Buntung/Amputasi dan sebagainya…

Paraplegia
Untuk penyandang Cacat Paraplegia, biasanya selalu menyertakan KursiRoda untuk mobilitas, dan juga motor harus didesign lebih safety dengan pengikat badan/ pelindung badan

berikut desain dari motor Bapak Sinaga dari Panti Tuna Daksa Pondokbambu ( Kawasaki ZX130 )…
Photo0189
Photo0187

motor beliau didesain model kereta samping untuk menempatkan kursiroda, so pengendara naik ke-bak dengan kursiroda lalu berpindah ke-jok motor, desain ini simple dan mengutamakan fungsi, kelemahan dari desain ini hanya body motor akan melebar kesamping selebar kijang Innova, so jadi susah nyelip2 di kemacetan LALIN.

ada lagi desain dari Bapak Achmad dari TanahAbang (Suzuki Smash 2009), beliau penyandang cacat Paraplegia :
Photo0180
Photo0178

kursiroda pengendara diikat dibelakang motor berikut tanki bensin yg dipindah kebagian belakang, model seperti ini lebih ringkas tetapi dengan resiko terguling yang lebih besar daripada model kereta samping karena dari jenis kecacatan paraplegia yang punya kelemahan di tulang punggung sehingga sulit untuk mengimbangi manuver motor….

Folio / Amputasi
Desain motor untuk penyandang cacat Folio/ Amputasi lebih simple, biasanya disesuaikan dengan alat bantu yg harus dibawa misalnya Kruk/Tongkat atau kursiRoda,

berikut contoh desain motor bro Nurdin (Yamaha JupiterMX 2009) :
Photo0176
Photo0186

berikut contoh desain motor bro BenyGondana (Honda SupraX – Sukabumi) :
CIMG4463

ok gan…. ntar dilanjut tulisannya….

Posted 12 Oktober 2009 by Tulus Budi in Modifikasi, Modifikasi bagi Difabel

Tagged with , , , ,