Peluncuran Bajaj Pulsar 135 LS di India… dan (Next) Pulsar 400 cc   17 comments

Amunisi baru untuk Light Sport dari Bajaj telah di launching berikut spesifikasi teknisnya:

Bajaj Pulsar 135 LS (Light Sport) – World’s First 4 Valve DTS-i Engine
Engine Type: 4 stroke, air cooled, 4-valve, single cylinder, SOHC, DTS-i
Displacement: 136.6cc
Max Power: 13.5 Ps @ 9000rpm
Max Torque: 11.4Nm @ 7500rpm
Starting: Kick + self start
Front Suspension: Telescopic front fork with antifriction bush (Stroke 130)
Rear Suspension: Trailing arm with Co Axial Hydraulic cum gas filled adjustable shock absorbers and triple rate coil spring
Front tyre: Tubetype Unidirectional 2.75 x 17″
Rear tyre: Tubetype Unidirectional 100/90 x 17″
Fuel Tank: 8 liters, 2.5 liter reserve (1.6 liter usable)
Headlamp: 35/35w
Wheelbase: 1325mm
Ground clearance: 170mm
Kerb Weight: 122 kgs
Handlebar: Clip-on
Speedometer: digital with tachometer as analog display

Dengan menerapkan 4 klep digabung dengan DTS-I (ternyata bukan DTS-Si dari XCD…) pada mesin 135cc ini mampu menghasilkan power 13.5 DK ( JupiterMX klo ga salah hanya 11 dk…. CMIIW) tapi tetap irit dalam pemakaian bahan bakar 68.1 km/l (sertifikasi dari ARAI)…
diindia motor ini akan bersaing dgn rival2-nya dikelas 125cc – 150cc.

pada peluncuran tersebut Rajiv Bajaj bercerita tentang rencana untuk meluncurkan Pulsar bermesin 400cc keatas dgn teknologi multi-valve DTS-i …

Posted 10 Desember 2009 by Tulus Budi in Motor

Tagged with , ,

Honda CB Twister 110, Desain nan Cantik ….   11 comments

dari india lagi nehhh… sumber motor batangan indonesia

Honda Motorcycle and Scooters India (HMSI) sekarang sedang mengembangkan motor batangan 110cc yg desainnya diambil dari beberapa motor yg ada seperti CB 1000R (aka Hornet), CB 300R, CBX 250 dan CBF Stunner
spyshootnya seperti ini :


terlihat dari bentuk buritan, sebagian tankshroud, ama lampu depan ngambil dari CB 300 R brazil edition, sementara tanki ngambil CBF Stunner 125 .

model ini bisa menginspirasi AHM untuk mendesain ulang MegaPro-nya agar bisa bersaing dengan Byson dan Tyson…. ehh maksudnya Vixion …

Posted 4 Desember 2009 by Tulus Budi in Motor, Opini

Tagged with , ,

From Bajaj India : Bajaj Pulsar 135 DTS-i…. The Next Pulsar   13 comments

baru dapet spyshoot terbaru dari Bajaj Pulsar 135 cc, neh penampakannya:

terlihat garis body khas pulsar yg dipadu dgn kuping kecil nan-menawan, rencananya akan diluncurkan untuk bersaing dgn produk TVS Flame dan Honda CBF Stunner disono…. spesifikasi mesin lom dapet bocoran…
(bocoran terakhir mesinnya 4 klep… hmmm 135cc 4 klep, jadi inget Jupie MX…)

ini pantat sexy-nya:

di india akan diperkenalkan akir tahun ini, sedangkan di indonesia? … wallahualam…

Update Gambar :

Posted 25 November 2009 by Tulus Budi in Motor

Tagged with , ,

Modifikasi Motor Untuk Penyandang Cacat / Difabel, Sesuai Fungsi dan Ke-cacat-an… (Bag. 2)   14 comments

Lanjutan dari Bagian 1……

Sering ada yg bertanya, gimana kalo yg dibikin adalah motor matik dgn alasan ga perlu repot2 pindah gigi ???… nah ini beberapa konsep modifikasi pada motor matik:

Konsep ini menggeser mesin matic kekanan dengan membuat dudukan mesin baru/ membuat As sambungan dari mesin dan membuat SwingArm baru :
moped-side-attachment2
Product-20081127173237-l

ada juga konsep yg hanya membuatkan roda penyeimbang kanan-kiri seperti ini :
moped-fix-attachment2

Konsep lain, dengan membuat menjadi kereta-samping :
3
or Img_9843Img_9845Img_9844sespanvario2

Kalau di china dan taiwan udah ada yg memproduksi skutik beroda tiga dgn konsep Tilting Three Wheel seperti ini :
9a072_8

atau:
2rpfiw8

Posted 28 Oktober 2009 by Tulus Budi in Modifikasi, Modifikasi bagi Difabel

Tagged with ,

Kawasaki Rouser 200 Philipina, Alias Bajaj Pulsar 200   17 comments

baca2 di forum motor filipina motorcyclephilippines.com/forums , di philipine ternyata kawasaki ngeluarin motor baru kawasaki Rouser 200, ini pic-nya:

image072p
image069z

dan sialnya napa ada foto motor gw ya….?????
bikepics-1457371-full

Posted 26 Oktober 2009 by Tulus Budi in Motor

Tagged with ,

SIM untuk Difabel   1 comment

Mengangkat lagi berita lama di kompas tentang Surat Ijin Mengemudi untuk Difabel berkendaraan motor dan mobil… ini tolisan lengkapnya, gw Copas ya?….

Sabtu, 17 Januari 2009 | 13:16 WIB
Oleh Winarta

Pada 10 Desember 2008 lalu, Kepolisian Daerah DIY mengeluarkan Surat Nomor B/4965/XII/2008/Ditlantas ditujukan kepada Kepala Poltabes/Kepala Polres se-DIY perihal Pembuatan Surat Izin Mengemudi untuk Penyandang Cacat. Ada tiga hal pokok yang harus dilaksanakan oleh poltabes/polres. Pertama, tidak ada diskriminasi dalam pengurusan SIM antara difabel dan nondifabel. Kedua, memberikan pelayanan dan menyediakan sarana dan prasarana bagi difabel yang dapat mempermudah difabel mengurus SIM. Dan ketiga, difabel diperbolehkan melakukan modifikasi kendaraan bermotor dengan berpedoman pada ketentuan yang ada.

Keberadaan surat itu tentu sangat melegakan bagi difabel. Sampai saat ini, hanya sedikit jumlah difabel yang berhasil menembus hambatan birokrasi pengurusan SIM dan itu pun dengan mengeluarkan biaya yang lebih mahal daripada warga nondifabel. Padahal, berdasarkan Skep Dirlantas Polri Nomor Skep/22/IX/2005 tanggal 22 September 2005 tentang Vademikum Polri disebutkan bahwa SIM dapat diberikan kepada difabel.

Pasal 5 Undang-Undang Nomor 4/1997 tentang Penyandang Cacat juga menegaskan bahwa setiap penyandang cacat mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam aspek kehidupan dan penghidupan. Oleh karena itu, surat Polda DIY kepada Kepala Poltabes/Kepala Polres se- DIY diharapkan dapat menghilangkan hambatan yang dihadapi difabel dalam pengurusan SIM.

Masalah utama yang dihadapi difabel adalah banyak mengalami hambatan dalam melakukan mobilitas. Saat seseorang diberi predikat sebagai orang cacat, sering kali dianggap tidak mampu atau tidak mempunyai hak melakukan mobilitas. Keluarga yang memandang anak cacat adalah sebuah aib sering kali membatasi ruang gerak dan daya gerak anak tersebut. Anak “dipaksa” agar tidak melakukan mobilitas secara bebas.

Mobilitas juga dimaknai secara sempit sebagai kemampuan kaki untuk berjalan. Seseorang yang hanya mempunyai satu kaki atau kakinya tidak seperti nondifabel dianggap tidak mempunyai kemampuan melakukan mobilitas. Hal itu jelas suatu anggapan yang salah karena apabila dilakukan rehabilitasi medik yang tepat serta dukungan sarana dan prasarana yang aksesibel, difabel dapat melakukan mobilitas secara wajar seperti nondifabel.

Dengan memiliki SIM, pada dasarnya difabel dianggap mempunyai kemampuan mengendarai kendaraan bermotor di jalan umum. Bagi difabel, sebagaimana warga negara lainnya, penggunaan kendaraan di jalan umum merupakan salah satu bentuk pelaksanaan hak melakukan mobilitas.

Hak melakukan mobilitas meliputi kesempatan untuk bergerak dalam lingkungannya dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Baik dengan cara berjalan kaki, menggunakan kursi roda, mengendarai sendiri, atau sekadar menumpang kendaraan bermotor, maupun menggunakan alat bantu lainnya.

Tidak terpenuhinya hak seseorang untuk melakukan mobilitas akan mengakibatkan tidak terpenuhinya hak yang lain. Suatu kenyataan bahwa tidak mungkin semua hak dapat diperoleh seseorang tanpa terlebih dulu melakukan mobilitas. Hak memperoleh pendidikan, pekerjaan, mengembangkan diri, berorganisasi, dan sebagainya akan berhubungan dengan hak melakukan mobilitas. Keselamatan masyarakat

Salah satu kekhawatiran yang muncul di kalangan nondifabel dengan pemberian SIM kepada difabel adalah keselamatan masyarakat. Ada kekhawatiran pemberian SIM itu dapat memicu terjadinya kecelakaan di jalan raya. Memang secara filosofi, SIM sebagai surat izin berfungsi untuk melindungi kepentingan masyarakat secara umum, terutama keselamatan orang-orang yang berada di jalan umum. Namun, kekhawatiran tersebut terlalu berlebihan dan hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak difabel mempunyai SIM.

Kekhawatiran akan terjadinya kecelakaan, pada dasarnya lebih karena asumsi bahwa difabel tidak mampu mengendarai kendaraan bermotor dengan baik. Fakta empirisnya, baik difabel maupun nondifabel ada yang mampu mengendarai kendaraan bermotor dengan baik dan ada yang tidak mampu mengendarai kendaraan dengan baik.

Baik dalam Vademikum Polri maupun surat Polda DIY, untuk menjamin keselamatan publik terkait pemberian SIM bagi difabel telah dijaga dengan dua ketentuan. Pertama, pemberian SIM diberikan atas keyakinan berdasarkan pemeriksaan dokter, bahwa kecacatannya tidak menghalangi teknis mengemudi yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain. Berdasarkan ketentuan ini, maka hanya difabel yang dianggap mampu mengemudi/mengendarai kendaraan bermotor secara aman yang akan diperbolehkan mempunyai SIM.

Dalam hal ini, rehabilitasi medik yang telah dilakukan turut pula menentukan. Dan kedua, modifikasi kendaraan bermotor dilakukan oleh bengkel resmi dan surat keterangan dari dinas perhubungan bahwa kendaraan itu laik jalan. Dengan ketentuan ini, maka kendaraan yang dipakai difabel di jalan umum memenuhi syarat keselamatan umum dan terjamin keamanannya, tidak hanya bagi difabel tetapi juga masyarakat.

Surat Polda DIY tidak akan ada artinya bila tak ada kesiapan dari kepolisian di poltabes/polres untuk melaksanakan. Sosialisasi isi surat tersebut perlu dilakukan ke seluruh jajaran petugas yang berkaitan dengan pengurusan SIM dan ditempel di kantor pelayanan. Sampai saat ini masih banyak petugas yang belum mengetahui isi surat tersebut.

Di samping itu, belum ada standar pelayanan yang memberi kemudahan kepada difabel dalam mengurus SIM. Sarana dan prasarana yang aksesibel juga belum cukup tersedia. Berkaitan dengan kebutuhan adanya dokter yang melakukan pemeriksaan kepada difabel yang tidak dapat dilakukan oleh sembarang dokter, kepolisian perlu melakukan kerja sama dengan rumah sakit atau Ikatan Dokter Indonesia untuk penyediaan dokter yang kompeten dan memahami persoalan difabilitas, serta mudah dijangkau oleh difabel.

Winarta Deputi Direktur Independent Legal Aid Institute (ILAI) Tinggal di Yogyakarta

ok …… sooo kapan jakarta ……….??????……..

Posted 22 Oktober 2009 by Tulus Budi in Motor

Tagged with ,

Modifikasi Motor Untuk Penyandang Cacat / Difabel, Sesuai Fungsi dan Ke-cacat-an… (Bag. 1)   32 comments

Banyak temen sesama Penyandang Cacat/PENCA/Difabel menanyakan tentang model2 modifikasi motor… misalnya untuk kecacatan jenis paraplegia, Folio, Buntung/Amputasi dan sebagainya…

Paraplegia
Untuk penyandang Cacat Paraplegia, biasanya selalu menyertakan KursiRoda untuk mobilitas, dan juga motor harus didesign lebih safety dengan pengikat badan/ pelindung badan

berikut desain dari motor Bapak Sinaga dari Panti Tuna Daksa Pondokbambu ( Kawasaki ZX130 )…
Photo0189
Photo0187

motor beliau didesain model kereta samping untuk menempatkan kursiroda, so pengendara naik ke-bak dengan kursiroda lalu berpindah ke-jok motor, desain ini simple dan mengutamakan fungsi, kelemahan dari desain ini hanya body motor akan melebar kesamping selebar kijang Innova, so jadi susah nyelip2 di kemacetan LALIN.

ada lagi desain dari Bapak Achmad dari TanahAbang (Suzuki Smash 2009), beliau penyandang cacat Paraplegia :
Photo0180
Photo0178

kursiroda pengendara diikat dibelakang motor berikut tanki bensin yg dipindah kebagian belakang, model seperti ini lebih ringkas tetapi dengan resiko terguling yang lebih besar daripada model kereta samping karena dari jenis kecacatan paraplegia yang punya kelemahan di tulang punggung sehingga sulit untuk mengimbangi manuver motor….

Folio / Amputasi
Desain motor untuk penyandang cacat Folio/ Amputasi lebih simple, biasanya disesuaikan dengan alat bantu yg harus dibawa misalnya Kruk/Tongkat atau kursiRoda,

berikut contoh desain motor bro Nurdin (Yamaha JupiterMX 2009) :
Photo0176
Photo0186

berikut contoh desain motor bro BenyGondana (Honda SupraX – Sukabumi) :
CIMG4463

ok gan…. ntar dilanjut tulisannya….

Posted 12 Oktober 2009 by Tulus Budi in Modifikasi, Modifikasi bagi Difabel

Tagged with , , , ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.